Presentasi Betti Alisjahbana – Pendidikan Tinggi Untuk Semua Kalangan

betti 01

Betti S Alisjahbana dikenal sebagai CEO IBM periode 2000-2008. Dia adalah wanita pertama di IBM Asia Pasifik yang memegang jabatan CEO. Setelah itu, dia mendedikasikan diri di bidang pendidikan, konsultasi, dan menjadi pembicara untuk topik kewirausahaan, talent management, dan peran wanita di Indonesia.

Dalam presentasi TEDx Jakarta berikut ini, Betti menjelaskan bagaimana menyediakan pendidikan tinggi buat semua masyarakat Indonesia lewat sebuah program beasiswa. Silakan Anda simak video berikut terlebih dahulu kemudian baca ulasannya.

 

Analisis Presentasi

Betti S Alisjahbana – Pendidikan Tinggi Untuk Semua

 

Pembuka

Tantangan terbesar di Indonesia adalah kemiskinan. Senjata yang paling ampuh adalah pendidikan. Ada banyak kisah di mana keluarga tidak mampu berhasil menempuh pendidikan tinggi, lulus kemudian menjadi middle class dan membawa orang dari lingkungannya untuk maju bersama dia.

Tantangan sekarang adalah makin sulit bagi kalangan kurang mampu untuk bisa menikmati pendidikan tinggi.

Betti kemudian menceritakan kisah seorang anak dari keluarga kurang mampu ketika ditanyakan tentang rencananya setelah lulus SMA. Inilah jawabannya.

betti 03

Anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak lagi memiliki mimpi yang besar karena cita-citanya untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi seolah-olah telah didiskon. Mereka dibuat sadar diri bahwa pendidikan tinggi sangat mahal dan tidak mungkin bagi mereka untuk bisa menembus dinding tebal yang menghalanginya. Ini menjadi tantangan yang besar buat mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Memang ada banyak beasiswa tersedia tapi kebanyakan hanya biaya pendidikan saja dan hanya diberikan buat yang sudah diterima di perguruan tinggi. Padahal tantangan bagi pelajar dari kalangan kurang mampu adalah mereka juga perlu dukungan biaya hidup selain biaya pendidikan dan perlu mempersiapkan diri untuk bersaing memasuki perguruan tinggi tersebut.

Perhatikan dalam pembukaan presentasinya, Betti menggunakan pendekatan kisah dan menjadikan kisah tersebut sebagai sebuah persoalan yang harus dipecahkan. Membuka presentasi dengan kisah adalah satu cara yang sangat baik karena semua orang suka mendengarkan kisah. Apalagi jika Anda mampu mengambil pelajaran dari kisah tersebut dan menggunakannya sebagai sebuah pertanyaan yang harus dijawab.

Cara ini mengundang keingintahuan audiens untuk mengetahui kelanjutan kisahnya sekaligus mempersiapkan audiens mendengarkan presentasi secara lebih mendalam.

 

Isi

Memasuki bagian utama presentasi, Betti menjelaskan bagaimana orang dari keluarga kurang mampu bahkan sejak awal sudah kesulitan untuk bersaing. Ini membuat mereka minder. Berikut kutipan langsung dari apa yang disampaikan Betti dalam presentasi tersebut:

“Ada disparitas sangat signifikan antara siswa yang datang dari keluarga kaya dengan siswa yang datang dari keluarga miskin.”

“32,6% siswa yang datang dari keluarga kaya mengenyam pendidikan di perguruan tinggi sementara dari keluarga miskin angkanya jauh lebih rendah yakni 6%.”

“Pendidikan adalah senjata yang ampuh untuk mengentaskan kemiskinan. Tetapi bila kesempatan untuk mengenyam pendidikan ini tidak ada maka yang terjadi adalah lingkaran kemiskinan.”

Penggunaan data, fakta, dan pernyataan yang kuat dalam sebuah presentasi akan mampu mengajak audiens memahami persoalan dan bersimpati terhadap isu yang dibawakan oleh seorang pembicara. Betti melakukannya dengan sangat baik lewat data dan pernyataan di atas.

 

Apa Yang Dilakukan Untuk Menjawab Tantangan Tersebut?

Setelah mengangkat persoalan pendidikan tinggi buat kalangan kurang mampu, terbetik ide yang kemudian diimplementasikan yakni beasiswa ITB untuk semua. Menggunakan media sosial seperti Website, Twitter, Blog, Betti dan tim berhasil menjaring relawan untuk berpartisipasi. Ada 90 orang relawan dari seluruh Indonesia yang bergabung.

Pada program pertama, ada 3170 calon penerima beasiswa yang mendaftar. Mereka harus memasukkan essay dan prestasi akademik. Dari jumlah tersebut disaring 200 yang terbaik dan didatangkan ke Bandung untuk tes selanjutnya. Akhirnya 40 orang dinyatakan lulus megikuti program beasiswa ini. Dibutuhkan dana 100 juta sampai mereka lulus untuk membiayai uang kuliah, biaya hidup dan bimbingan pendukung lainnya.

Berbagai kalangan turut mendukung program ini diantaranya donatur dari perusahaan, kelompok, maupun individu.

Biaya bukan satu-satunya tantangan. Butuh proses bridging dan survival kit buat anak-anak dari kalangan kurang mampu ini. Mereka dibantu memantapkan pengetahuan dasar seperti Matematika, Fisika, dan Kimia. Mereka juga mendapatkan motivasi dan coaching lewat pertemuan dengan alumni, dan tokoh-tokoh Indonesia untuk belajar dan mendapat inspirasi.

betti 02

Setelah setahun hasilnya sangat baik di mana penerima beasiswa memiliki rata-rata IPK 3,26 bahkan 4 orang diantaranya berhasil meraih IPK 3,7.

Ini menunjukkan bukti bahwa ketika seorang anak dari keluarga kurang mampu diberi kesempatan, mereka pun bisa bersaing dan mendapat prestasi yang baik. Tidak hanya secara akademik melainkan ikut aktif di keorganisasian.

Pada bagian ini, jawaban atas persoalan yang diangkat di awal presentasi juga disampaikan lewat cerita. Penggunaan slide berisi gambar berbagai aktivitas membantu audiens memahami dengan mudah apa yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya.

 

 

Penutup

Pada bagian akhir dari presentasi, Betti mengajak audiens untuk melihat kembali kisah seorang pelajar kurang mampu yang disampaikan di pembukaan presentasi. Pelajar tersebut bernama Nurul. Jika dulu dia harus rela untuk mengubur mimpinya melanjutkan pendidikan, sekarang dia menjadi seorang yang optimis untuk belajar dengan baik di perguruan tinggi dan kembali ke daerah asalnya untuk berkarya di kemudian hari.

betti 04

Sebagai penutup presentasinya, Betti menyampaikan kalimat berikut:

“Program ini bukan hanya bisa mengatasi mimpi yang didiskon melainkan mampu menjawab tantangan yang sebelumnya menghambat mereka untuk berpartisipasi dan sukses di dalam proses belajar.”

“Sering kita mengandalkan pemerintah. Saat ini fokus pemerintah pada pendidikan dasar dan menengah. Butuh kontribusi dari kita semua. Ada berbagai sarana sosial media yang bisa dipakai untuk kolaborasi.”

“Ternyata lebih banyak orang yang baik di Indonesia. Kalau di media sering kita baca korupsi, penipuan, ternyata masih banyak orang yang baik dan mau berkontribusi. Dan inisiatif seperti ini bisa menggalang dan membangkitkan orang-orang yang baik ini untuk bisa memberikan kontribusi di dalam memecahkan masalah yang nyata.”

“Semoga kita bisa membawa Indonesia menuju masyarakat yang sejahtera.”

Perhatikan bagaimana seorang pembicara mampu merangkum isi presentasinya dalam kesimpulan yang sederhana yakni sebuah program beasiswa yang dirancang dengan baik mampu menjawab tantangan yang dihadapi para pelajar dari kalangan kurang mampu. Betti juga secara khusus mengajak audiensnya untuk optimis dan tidak menyalahkan orang lain. Sebab seringkali kita dibuat pesimis dengan berita-berita negatif di media. Padahal, Indonesia juga bangsa yang besar dan punya potensi sangat besar.

Pengalaman saya pribadi bekerja di luar negeri dan berinteraksi dengan orang dari berbagai negara menunjukkan banyak rekan-rekan dari negara lain kagum dengan kemajuan dan potensi yang kita miliki, meskipun tentu kita pun punya banyak masalah yang harus diselesaikan. Untuk itu, kita harus optimis dalam memandang masa depan bangsa. Apapun yang dimudahkan buat kita saat ini, jadikanlah sarana mengabdi untuk kemajuan bangsa. Tidak ada gunanya berkeluh kesah karena hal itu tidak menyelesaikan apapun. Apa yang kita butuhkan adalah anak-anak bangsa yang berkarya di bidang masing-masing dan turut berkontribusi buat kemajuan masyarakatnya.

 

Kesimpulan

Dalam presentasi ini, Betti mengangkat tema pendidikan yang merupakan persoalan penting yang dihadapi bangsa ini. Lewat pembukaan yang mengangkat kisah seorang anak dari keluarga kurang mampu, Betti kemudian menutup presentasinya dengan kisah yang sama.

Ini adalah salah satu teknik penting dalam sebuah presentasi. Di awal presentasi Anda membuka sebuah kisah namun tidak menceritakan bagaimana akhirnya. Cara ini akan membuat audiens penasaran dan ingin mengetahui bagaimana lanjutan kisah tersebut. Kemudian setelah Anda menyelesaikan isi utama presentasi, Anda menutup presentasi dengan melanjutkan kisah yang sama dan menyampaikan happy ending yang ditunggu-tunggu oleh semua audiens.

Tidak hanya itu, sebagai seorang presenter, Anda juga harus mampu mengajak audiens optimis. Membuat mereka yakin atas kemampuan yang dimiliki dan jika dimanfaatkan dengan baik akan membawa perubahan ke arah yang positif. Betti melakukannya dengan sangat baik dengan mengajak seluruh audiens turut berpartisipasi dalam berbagai bentuk yang bisa mereka lakukan.

 

Referensi Penting Lainnya:

TEDx Jakarta

Beasiswa ITB Untuk Semua

Blog Pribadi Betti Alisjahbana

QB Leadership Center

 
 

 
 

 
 

 
 

 

 
 

Silakan baca artikel menarik lainnya:

About Muhammad Noer

Seorang praktisi di bidang presentasi. Baginya, menguasai keterampilan presentasi sama dengan menguasai keterampilan komunikasi publik. Dapatkan buku yang ditulisnya di sini atau baca profil lengkapnya di sini.

Sampaikan Komentar Anda

  1. Fitri Dani berkomentar:

    Luar biasa…. fantastic ! Semoga ini memberikan insiprasi besar dalam pola pikir, tindak & sikap dalam hidup saya. Thanks a lot Pak M. Noer

  2. Presentasi yang diawali dengan suatu kisah seperti contoh di atas lebih mudah dipahami audiens.
    Saya pun menikmati presentasi lewat cerita tersebut dan suasananya terbawa seperti saat menonton film

  3. sangat menarik dan bagus untuk awal presentasi di buat sebuah kisah n final cerita di akhir dan menbuat orang lain penasaran ingin mengetahui kelanjutan ceritanya…..

  4. presentase yang sangat inspiratif. Thanks Mas Nur…

  5. marilang berkomentar:

    Setelah menyimak presentasi tersebut saya teringat langgam Bung Karno yang memukau dengan sangat luar biasa, lawan bebuyutan politiknya pun tepuk tangan ketika pidato, tapi itu bidang politik. Saya inginkan Bung Karno lainnya dalam bidang ilmiah, mempresentasikan kajian ilmiah yang dapat menukik sampai ke tulang sum-sum mahasiswa dan memiliki daya tahan hingga sarafnya tidak berfungsi lagi. Terima kasih Muhhamad Noer, semoga amal baiknya menjadi jariah, amin.

  6. Luar Biasa Dahsyat, saya berharap program – program seperti ini bisa terlaksana dengan maksimal krn kita tidak bisa berharap lagi kepada pemerintah, Fokus saat ini adalah apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Go On Lakukan….. Thanks Pa Mohammad Noer I Like This Story.

  7. Thanks too…Mr. Muhammad Noer….

  8. muhammad berkomentar:

    terima kasih pak muhammad Noer , atas info nya yang menggugah imaginasi

  9. Materinya sangat membantu saya dalam melakukan presentasi dan juga digunakan untuk mengajar kepada staff saya, terima kasih banyak Bp. Muhammad Noer

  10. rara berkomentar:

    saya jadi kerajinan buka presentasi dan terus tuh s/d hr ini.. bahan mas nur membuat saya terinspirasi terus melahirkan presentasi2 yg cukup baik.

    • Muhammad Noer berkomentar:

      Silakan dieksplorasi Rara. Semoga bermanfaat untuk membuat presentasi yang lebih powerful

  11. Yose Rizal berkomentar:

    wah..
    mesti makin lebih giat dan latihan agar bisa presentasi lebih menarik..
    tengkiu mas…

  12. Materi presentasi yang disampaikan memang sangat inspiratif. Tapi saya melihat beberapa kesalahan kecil yang tidak seharusnya dilakukan. pertama, terlalu banyak kata pengganggu “e” bahkan ada yang beberapa kali terucap double “e..e”. Kata seperti itu terucap sangat sering. Ini benar-benar mengganggu. Kemudian ketika mengucapkan kalimat “Anda barang kali ingat ada lagu “kau suka singkong, eh,,kau suka keju, itu lagunya Ari Wibowo, harusnya kan “aku suka singkong kau suka keju”. Ini harusnya tak perlu terjadi. Ketiga, jika saya harus mendengarkan presentasi ini salam 1 jam mungkin saya akan mengantuk, karena penyampainnya kurang menarik. Itu beberapa evaluasi dari apa yang saya lihat. Tentunya presentasi ini bisa lebih baik, jika kesalahan2 kecil ini tidak dilakukan..Semoga hal ini bisa jadi pembelajaran yang baik untuk diri kita dan siapa saja yang ingin presentasinya lebih baik.

    • Muhammad Noer berkomentar:

      Pengamatan yang cermat :)

      Dalam konteks presentasi, kebiasaan mengucapkan kata “e” atau “mmmh” disebut mumbling. Mungkin dalam bahasa Indonesianya kita mengenal istilah bergumam. Hal ini muncul karena seorang presenter sedang berpikir. Baik berpikir tentang kalimat selanjutnya, bagian selanjutnya dari presentasi, atau ketika hendak menjawab pertanyaan dari audiens.

      Banyak orang tidak sadar melakukan hal seperti ini kecuali ada audiens yang secara khusus melihat dan menghitung berapa kali hal itu terjadi. Barulah mereka menyadari betapa banyak kata “e” yang terucapkan dan betapa hal tersebut mengganggu jalannya presentasi.
      Saya sependapat hal ini dapat diperbaiki dalam presentasi bu Betty di atas sehingga akan lebih memperkuat materi presentasinya yang sebenarnya sangat baik dan inspiratif.

      Satu cara menghilangkan mumbling tersebut adalah dengan menyadari bahwa kita melakukannya lalu menggantinya dengan diam ketika sedang berpikir. Dengan praktek yang rutin dalam setiap kesempatan berbicara di depan publik, maka mumbling ini bisa dihilangkan.

Leave a Reply